Siswa di Kukar Memanfaatkan Kereta Gantung untuk Menyebrangi Sungai Berhabitat Buaya

Setiap pagi, Ade Fahmi Maulana dan adiknya, Assyifa, memulai rutinitas sekolah yang sangat berbeda. Alih-alih menggunakan kendaraan umum atau berjalan di jalur aman, kedua siswa SD asal Dusun Damai, Desa Santan Ulu, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), harus menyeberangi Sungai Santan dengan menggunakan kereta gantung sederhana yang ditarik secara manual. Situasi ini tidak hanya menantang, tetapi juga mencerminkan semangat juang mereka dalam mengejar pendidikan.
Perjalanan Sehari-hari yang Penuh Tantangan
Ritual perjalanan menuju sekolah diawali dengan berjalan kaki sejauh 200 meter menuju tepi sungai. Setibanya di lokasi, Ade harus menarik tali tambang yang menggerakkan kereta gantung berukuran sekitar 2,5 meter x 2 meter. Ini adalah satu-satunya akses tercepat untuk mencapai sekolah. Di bawah kereta gantung, mengalir Sungai Santan yang dikenal oleh masyarakat setempat sebagai habitat bagi buaya, menambah ketegangan dalam perjalanan mereka.
Meski ada risiko yang selalu mengintai, kondisi ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari mereka. Ade mengungkapkan bahwa ia selalu waspada setiap kali menyeberang, terutama ketika cuaca buruk atau saat debit air sungai meningkat.
Ketegangan di Atas Sungai Berbahaya
“Kadang-kadang, saat kami menyeberang, buaya mengikuti kami. Jika hujan, kami biasanya menunggu hingga cuaca reda. Ketika air sungai naik, rasa takut semakin besar, terutama jika ada buaya di sekitar,” ungkapnya.
Ayah mereka, Aceng Jainuddin, mengakui bahwa rasa cemas selalu menyelimuti pikirannya ketika melepas anak-anaknya berangkat sekolah. Namun, semangat belajar yang dimiliki Ade dan Assyifa membuat mereka tetap ingin bersekolah meskipun harus menghadapi risiko yang besar.
“Kadang jika saya melarang mereka pergi, mereka sampai menangis karena takut ketinggalan pelajaran,” kata Aceng, mencerminkan betapa pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya.
Respons Sekolah dan Dukungan untuk Siswa
Pihak sekolah memahami tantangan yang dihadapi siswa dari Dusun Damai. Kepala SD Negeri 021 Marangkayu, Badil, menyatakan bahwa pihak sekolah memberikan toleransi kepada siswa yang terlambat akibat cuaca buruk atau kondisi sungai yang berbahaya. Ini menunjukkan kepedulian sekolah terhadap keselamatan dan pendidikan siswa.
Lebih lanjut, pihak sekolah juga telah menyiapkan pembelajaran daring sebagai alternatif ketika cuaca ekstrem menghalangi siswa untuk menyeberangi sungai dengan aman. Hal ini menjadi solusi yang praktis dan efektif untuk memastikan proses belajar mengajar tetap berlangsung.
Harapan akan Jembatan Permanen
Keinginan masyarakat untuk memiliki jembatan permanen telah lama disuarakan. Kepala Desa Santan Ulu, Heri Budianto, menjelaskan bahwa usulan pembangunan jembatan gantung telah diajukan. Namun, hingga kini, realisasinya terhambat karena lokasi pembangunan berada di kawasan hutan lindung, yang memerlukan proses perizinan yang cukup rumit.
Sementara menunggu solusi pembangunan jembatan, kereta gantung manual masih menjadi andalan bagi warga dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Bagi Ade dan Assyifa, setiap tarikan tali tambang di atas sungai yang dihuni buaya adalah bagian dari perjuangan mereka untuk meraih pendidikan dan masa depan yang lebih baik.
Kesimpulan Perjuangan untuk Pendidikan
Perjalanan Ade dan Assyifa ke sekolah bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah simbol dari keteguhan hati dan semangat juang. Dalam menghadapi risiko, mereka menunjukkan bahwa pendidikan adalah hal yang sangat berharga, yang patut diperjuangkan meskipun harus melawan tantangan yang ada.
Keberadaan kereta gantung kukar ini tidak hanya menjadi alat transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang menggambarkan perjuangan dan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Semoga suara masyarakat dapat didengar, dan pembangunan jembatan permanen dapat segera terwujud, sehingga akses pendidikan menjadi lebih aman dan nyaman bagi generasi mendatang.